Langsung ke konten utama

Distorsi Kebenaran di Era Internet of Things

Hilman Fajrian

Generasi Millenial adalah adalah pemakai sekaligus pelaku dari hampir semua film fiksi sains yang kita dulu tonton di era 80 dan 90-an. Bahkan, tidak sedikit dari film-film itu yang ketinggalan zaman. Karena benda yang mereka 'prediksikan' hadir 50-100 tahun dari saat itu, sekarang sudah ada dan dipakai bebas. Atau, bayangkan betapa jadulnya teknologi yang 'diprediksikan' oleh film-film fiksi sains era 70-an seperti Flash Gordon atau Star Trek. Di era Internet of Things (IoT) sekarang ini manusia tak cukup lagi terkoneksi dengan manusia lain. Manusia harus terkoneksi juga dengan barang mati, dan barang itu harus bisa 'berpikir'. Untuk rumah tangga saja, sudah ada lampu yang bisa dioperasikan jarak jauh. Ada juga lemari es yang bisa otomatis mengorder pesanan ke toko ketika isinya habis. Untuk hidup sehari-hari tidak sedikit manusia yang sudah diatur lewat gadget seperti smartwatch atau ponsel: kapan harus tidur, kapan harus bangun, pergi ke kantor lewat mana, siang ini makan apa. Hidup memang semakin mudah, tapi ia diwujudkan dengan cara-cara amat kompleks sekaligus terbuka. Silakan anda hitung sendiri berapa jumlah IoT di keluarga anda. Mulai dari smart phone, tablet, komputer, laptop, smart tv, ipod, smart watch, pelacak hewan peliharaan, GPS mobil, CCTV, sampai lampu atau lemari es yang saya sebut di atas. 
Era orangtua kita dulu cukup mengetahui kondisi anaknya lewat telepon atau pager. Sekarang tak cukup. Orangtua harus tahu posisi anak lewat GPS, tahu apa yang sedang ia lakukan lewat CCTV atau monitoring ponsel, bahkan menyadap ponsel anak. Hasilnya adalah hyper connected dan air bah big data. Hyper connected membuat cara komunikasi, distribusi dan otoritas informasi berubah. Big data membuat kita dihujani berbagai informasi tak terkategori dan harus bisa kita 'sunting' sendiri. Dalam banjir big data dalam ekosistem yang hyper connected, pandangan kita akan kebenaran jadi kabur -- bahkan nyaris hilang. Kebenaran digantikan oleh popularitas. Popularitas adalah segala sesuatu yang kita suka. Dan bukan cerita baru bahwa kebenaran itu pahit -- dan tidak disukai. IoT pada akhirnya melahirkan situasi paradoks. Satu sisi ia mengkoneksikan, di sisi lain ia menurunkan kualitas informasi. Kita banyak mendapat informasi, tapi belum tentu pengetahuan. Kita makin terhubung, tapi justru menggerus kualitas keintiman atau kedekatan. Sebuah informasi bisa begitu populer, tapi belum tentu ia benar. Simaklah isi social media anda yang belakangan ramai tentang peredaran beras plastik di Indonesia. Jumlah yang mengatakan beras plastik memang betul beredar, sama jumlahnya dengan yang menyebutkan itu cuma hoax. Jadi, mana yang benar? Pergulatan mencari kebenaran soal beras plastik ini makin terdistorsi oleh sikap dan keberpihakan politik. Mereka yang tidak mendukung pemerintahan Jokowi, menggunakan isu ini untuk menyerang. Para pendukung Jokowi melakukan counter dengan bilang bahwa isu ini digunakan untuk menjatuhkan citra pemerintah. Padahal masyarakat cuma ingin tahu apakah beras plastik itu benar-benar ada atau tidak. Tapi susahnya bukan main. Begitu pula dengan isu imigran Rohingya yang sudah tercampuraduk antara isu agama, ras, kedaerahan dan politik. Yang akhirnya kita temukan akhirnya adalah pendukung, bukan pengusung kebenaran. Alangkah sulitnya mencari kebenaran di era IoT. 

IoT memang membuat kebenaran tak bisa dimonopoli oleh pemerintah atau media mainstream. Ia berada di tangan khalayak. Namun bukan berarti kebenaran ini tak bisa dikontrol dan diarahkan. 'Kebenaran' era IoT difabrikasi lewat citra, menciptakan suara nyaring dan lebar sekaligus gaduh, serta didorong agar populer. Itu sebabnya kita sekarang akrab dengan kata 'pencitraan'. Kata 'pencitraan' sebenarnya adalah salah satu refleksi nyata dari IoT. Khalayak sadar bahwa mereka adalah target dari operasi fabrikasi popularitas, sehingga mereka jadi hilang kepercayaan -- bahkan kepada fakta sekali pun. Pokoknya kalau ada informasi yang positif, langsung dibilang pencitraan. Sehingga, informasi baik kerap dianggap bagian dari pencitraan yang justru bersinonim dengan manipulasi. Bila yang baik otomatis dianggap bagian manipulasi, maka yang buruk dianggap bukan manipulasi. Akhirnya kita otomatis percaya dan menvalidasi informasi negatif sebagai kebenaran -- yang akan menjadikan kita sebagai masyarakat yang pesimistis dan pemarah. Berbagai perangkat IoT dikerahkan untuk memperkaya dan menciptakan banjir Big Data. Mulai dari gadget, drone, CCTV lalu lintas, pelacak pesawat terbang -- dan semua perangkat lain yang bisa menyediakan data untuk memperkuat informasi (yang berpihak).

Kita tak lagi mengenal media yang kredibel, melainkan media yang populer karena punya banyak pendukung. Menciptakan popularitas dan kegaduhan (share) saja tidak cukup, informasi difabrikasi agar bisa mencapai kedalaman (depth) yang dikelola secara intens lewat interaksi (engagement). Bangun tidur setiap pagi tak cukup lagi baca berita dari Kompas, tapi harus juga baca tulisan terbaru Jonru. Kalau sehari saja tidak nyinyir di social media, hidup tak terasa lengkap.

IoT memang membuat kebenaran tak bisa lagi dimonopoli satu-dua pihak, ia diserahkan kepada khalayak. Namun kita mengenal istilah 'individu itu pandai, tapi kerumunan itu bodoh'. Ketika kerumunan itu sudah sebegitu bodohnya dan makin membuat kebenaran sulit ditemukan, maka tiba saatnya 'mesin yang berpikir' mengambil alih. Yang kemudian kita lihat adalah cerita di film Terminator atau Matrix menjadi kenyataan. (*)

*Tulisan ini adalah versi Kompasiana dari versi aslinya di Blog Social Lab oleh penulis yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengapa orang tak cerdas merasa begitu pintar?

Anda cukup cerdas, bukan? Pintar... dan bahkan lucu. Tentu saja Anda adalah pribadi yang demikian, sama halnya dengan saya. Tapi bagaimana jika kita ternyata keliru? Para psikolog menunjukkan bahwa kita cenderung lebih buta untuk melihat kegagalan kita sendiri daripada yang mungkin kita sadari. Ini bisa menjelaskan mengapa beberapa orang yang tidak kompeten begitu menjengkelkan, dan juga tidak rendah diri. Pada tahun 1999, Justin Kruger dan David Dunning, dari Universitas Cornell, New York, meneliti apakah orang-orang yang tidak memiliki keterampilan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu juga kurang menyadari bahwa dirinya kurang terampil. Di awal makalah penelitian mereka, kedua peneliti tersebut mengutip kisah mengenai seorang perampok bank di Pittsburgh, Amerika Serikat yang bernama McArthur Wheeler. Dia ditangkap pada tahun 1995 tak lama setelah merampok dua bank di siang hari tanpa mengenakan masker atau jenis penyamaran lainnya. Ketika polisi menunjukkan padanya re...

FROM MOVABLE TYPE TO DATA DELUGE

WORLD & I Jan. 1999, pp. 24-37 "This article appeared in the January 1999 issue and is reprinted with permission from THE WORLD & I, a publication of the WASHINGTON TIMES Corporation, copyright (c) 1999." FROM MOVABLE TYPE TO DATA DELUGE by John Gehl and Suzanne Douglas Instant, Global News and the Hypertext Web Are Carrying Us into Realms of "Information" Access That Alter Knowledge Foundations Laid by Gutenberg's Printing Technology.              Marshall McLuhan--the pundit best known for his slogan "the medium is the message"-described the information age as an age of "all-at-onceness," in which space and time are overcome by television, jets, and computers. In such an all-at-once world, linear, "cause-effective" thinking processes give way to a "discontinuous integral consciousness," so that points of view and specialist goals are replaced by an overall awareness of the mosaic world of a "ret...