Langsung ke konten utama

Postingan

Revolusi Industri 4.0

Kompas – Analisis Ekonomi, Selasa 10 April 2018 Revolusi industri gelombang ke empat, yang juga disebut industri 4.0, kini telah tiba. Industri 4.0 adalah tren terbaru teknologi yang sedemikian rupa canggihnya, yang berpengaruh besar terhadap proses produksi pada sektor manufaktur. Teknologi canggih tersebut termasuk  artificial intelligence  (AI),  e-commerce ,  big data ,  fintech ,  shared economies , hingga penggunaan robot. Istilah industri 4.0 pertama kali diperkenalkan pada Hannover Fair 2011, yang ditandai dengan revolusi digital. Bob Gordon dari Universitas Northwestern, seperti dikutip Paul Krugman (2013), mencatat bahwa sebelumnya telah terjadi tiga revolusi industri. Pertama, ditemukannya mesin uap dan kereta api (1750-1830). Kedua, penemuan listrik, alat komunikasi, kimia dan minyak (1870-1900). Ketiga, penemuan komputer, internet dan telepon genggam (1960 hingga sekarang). Versi lain menyatakan bahwa revolusi industri ke tiga dimulai ...
Postingan terbaru

Mengapa orang tak cerdas merasa begitu pintar?

Anda cukup cerdas, bukan? Pintar... dan bahkan lucu. Tentu saja Anda adalah pribadi yang demikian, sama halnya dengan saya. Tapi bagaimana jika kita ternyata keliru? Para psikolog menunjukkan bahwa kita cenderung lebih buta untuk melihat kegagalan kita sendiri daripada yang mungkin kita sadari. Ini bisa menjelaskan mengapa beberapa orang yang tidak kompeten begitu menjengkelkan, dan juga tidak rendah diri. Pada tahun 1999, Justin Kruger dan David Dunning, dari Universitas Cornell, New York, meneliti apakah orang-orang yang tidak memiliki keterampilan atau kemampuan untuk melakukan sesuatu juga kurang menyadari bahwa dirinya kurang terampil. Di awal makalah penelitian mereka, kedua peneliti tersebut mengutip kisah mengenai seorang perampok bank di Pittsburgh, Amerika Serikat yang bernama McArthur Wheeler. Dia ditangkap pada tahun 1995 tak lama setelah merampok dua bank di siang hari tanpa mengenakan masker atau jenis penyamaran lainnya. Ketika polisi menunjukkan padanya re...

Is Google Making Us Stupid? What the Internet is doing to our brains

Is Google Making Us Stupid? What the Internet is doing to our brains "Dave, stop. Stop, will you? Stop, Dave. Will you stop, Dave?” So the supercomputer HAL pleads with the implacable astronaut Dave Bowman in a famous and weirdly poignant scene toward the end of Stanley Kubrick’s 2001: A Space Odyssey. Bowman, having nearly been sent to a deep-space death by the malfunctioning machine, is calmly, coldly disconnecting the memory circuits that control its artificial “ brain. “Dave, my mind is going,” HAL says, forlornly. “I can feel it. I can feel it.” I can feel it, too. Over the past few years I’ve had an uncomfortable sense that someone, or something, has been tinkering with my brain, remapping the neural circuitry, reprogramming the memory. My mind isn’t going—so far as I can tell—but it’s changing. I’m not thinking the way I used to think. I can feel it most strongly when I’m reading. Immersing myself in a book or a lengthy article used to be easy. My mind would get caught ...

FROM MOVABLE TYPE TO DATA DELUGE

WORLD & I Jan. 1999, pp. 24-37 "This article appeared in the January 1999 issue and is reprinted with permission from THE WORLD & I, a publication of the WASHINGTON TIMES Corporation, copyright (c) 1999." FROM MOVABLE TYPE TO DATA DELUGE by John Gehl and Suzanne Douglas Instant, Global News and the Hypertext Web Are Carrying Us into Realms of "Information" Access That Alter Knowledge Foundations Laid by Gutenberg's Printing Technology.              Marshall McLuhan--the pundit best known for his slogan "the medium is the message"-described the information age as an age of "all-at-onceness," in which space and time are overcome by television, jets, and computers. In such an all-at-once world, linear, "cause-effective" thinking processes give way to a "discontinuous integral consciousness," so that points of view and specialist goals are replaced by an overall awareness of the mosaic world of a "ret...

Internet Membuat Makin 'Bodoh'

"Of course it's true, because this is internet and posted by an anonym." Jawaban kelakar sarkasme itu kerap ditemui di 9gag, sebuah situs humor. Diawali pertanyaan seseorang apakah meme yang dilihatnya berisi informasi yang benar atau tidak, maka responnya adalah jawaban itu. Lucu sekaligus ironis karena menggambarkan apa yang terjadi dengan kita semua, para pengguna internet. BUBARNYA HIERARKI Saat mampir ke SMA tempat saya bersekolah 17 tahun lalu, guru-guru berkeluh-kesah. Murid sekarang, kata guru saya, jauh lebih kritis dibanding zaman saya dulu. Bedanya, kritisnya murid zaman dulu kepada gurunya karena mereka punya buku bacaan yang lebih banyak dibanding buku pelajaran. "Sekarang murid-murid mendebat bahan pelajaran pakai sumber dari internet. Dari blog, situs berita, forum, bahkan Facebook dan Twitter. Padahal kita sebagai guru belum memeriksa validitas sumber mereka," keluh salah satu mantan guru saya. Saya ikut prihatin. Membaca paper John Gehl d...

Distorsi Kebenaran di Era Internet of Things

Hilman Fajrian Generasi Millenial adalah adalah pemakai sekaligus pelaku dari hampir semua film fiksi sains yang kita dulu tonton di era 80 dan 90-an. Bahkan, tidak sedikit dari film-film itu yang ketinggalan zaman. Karena benda yang mereka 'prediksikan' hadir 50-100 tahun dari saat itu, sekarang sudah ada dan dipakai bebas. Atau, bayangkan betapa jadulnya teknologi yang 'diprediksikan' oleh film-film fiksi sains era 70-an seperti Flash Gordon atau Star Trek. Di era Internet of Things (IoT) sekarang ini manusia tak cukup lagi terkoneksi dengan manusia lain. Manusia harus terkoneksi juga dengan barang mati, dan barang itu harus bisa 'berpikir'. Untuk rumah tangga saja, sudah ada lampu yang bisa dioperasikan jarak jauh. Ada juga lemari es yang bisa otomatis mengorder pesanan ke toko ketika isinya habis. Untuk hidup sehari-hari tidak sedikit manusia yang sudah diatur lewat gadget seperti smartwatch atau ponsel: kapan harus tidur, kapan harus bangun, pergi ke k...

Kesejahteraan Ekonomi di Era Digital

John Chambers ; Direktur Eksekutif Cisco KOMPAS, 26 Januari 2017 Masyarakat dari seluruh penjuru dunia mengharapkan perubahan. Hasil pemilu baru-baru ini-yang paling menonjol jajak pendapat Brexit di Inggris Raya dan pemilu di Amerika Serikat-telah menunjukkan meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Dalam suasana semacam ini, para pemimpin sangat diharapkan mampu menjelaskan dan menyampaikan sebuah visi yang jernih menyangkut pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Visi ekonomi tersebut tidak semata berbicara tentang kebijakan pajak dan perdagangan, yang menjadi fokus dalam berbagai perdebatan dewasa ini, tetapi juga tentang digitalisasi. Mewakili potensi ekonomi senilai 19 triliun dollar AS hingga dekade ke depan, digitalisasi memampukan negara-negara untuk memacu pertumbuhan produk domestik bruto (PDB), penciptaan lapangan pekerjaan, dan inovasi. Kita sudah melihat dampak digitalisasi pada negara-negara yang menggunakannya sebagai sumber kekuatan utama bagi berbagai strategi ekonomi...